Standart yang sangat ketat, diterapkan oleh Padepokan Brojobuwono, dalam menciptakan sebilah keris yang berkualitas. Yang mana hal
itu merupakan pakem dan tradisi dari para empu sakti di masa lalu.
Suara besi beradu
terdengar saling bersahutan dari arah belakang sebuah rumah di wilayah Desa
wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Kabupeten Karanganyar, Jawa Tengah. Tampak
tiga orang pria berpakaian serba putih sedang mengarahkan palu besar yang
digenggamnya ke permukaan besi membara di depannya. Dan tak ayal, percikan
bunga api pun terlontar ke berbagai arah, akibat benturan palu dnegan besi
membara itu.
Aktifitas seperti ini
hampir tiap hari bisa ditemui di dalam rumah yang juga merupakan sebuah
besalen, atau tempat pembuatan keris itu. Ini karena order pesanan pembuatan
keris di besalen ini terbilang cukup banyak. Sehingga sang pemilik, yang tak
lain adalah Empu Basuki Teguh Yuwono memang hampir tiap hari selalu melakukan
proses pembuatan.
“Kebetulan kami
sedang membuat keris pesanan dari seorang pejabat di Jakarta. Tapi untuk
jenisnya kami tidak bisa memberitahukannya,” ujar Empu Basuki singkat kepada depthINFO.com
Besalen yang diberi
nama Padepokan Brojobuwono itu selama ini memang dikenal sebagai salah satu
besalen yang kerap menjadi jujugan para kolektor untuk mendapatkan keris-keris
berkualitas. Sebab di padepokan ini, Empu Basuki berusaha untuk menerapkan
standard yang ketat dalam proses pembuatan keris-kerisnya.
Ada serangkaian
prosesi yang akan dijalankan dalam pembuatan keris. Yang mana hal itu
disesuaikan dnegan proses pembuatan keris pusaka yang dilakukan oleh para empu
kondang pada jaman dulu. Dan sebagai seorang dosen mata kuliah Keris dan
Senjata Tradisional di Institut Seni Indonesia Surakarta, tentu Empu Basuki
snagat memahami berbagai literature yang menjelaskan tentang hal itu.
Ya, selain sebagai
seorang empu pembuat keris, Basuki memang sangat aktif dalam kampanye
penyebaran informasi terkait senjata tradisional Indonesia ini. Berbagai metode
dilakukannya, mulai dari workshop, seminar, pembuatan buku sdampai dnegan film
pendek tentang keris dilakukan oleh Empu Basuki, untuk semakin mengenalkan keris
ke masyarakat umum. Dan untuk itu berbagai penelitian dilakukannya untuk
mengungkap rahasia di balik proses pembuatan sebilah keris.
“Misi utama kami
adalah pelestarian tradisi budaya. Dan keris sebagai bagian dari budaya itu
selalu diikuti serangkaian tradisi, yang membuatnya menjadi istimewa. Karena
itulah di padepokan Brojobuwono ini kami berusaha menerapkan tradisi itu,
terutama terkait prosesi yang bersifat spiritual yang mengikuti proses
pembuatan keris itu,” jelasnya.
Kualitas
Tinggi
Tak hanya menggelar
sebuah ritual khusus sebelum proses pembuatan, Empu Basuki juga menggelar
ritual lanjutan saat keris selesai dibuat. Dan semua itu akan direkam dalam
bentuk DVD yang akan diberikan ke pemesan, saat keris yang dipesannya selesai
dibuat.
| Ritual penyempurnaan energi keris |
“Keris tidak hanya
sebagai sebuah senjata tetapi dapat diartikan sebagai pelindung dari segala
macam gangguan baik fisik maupun gaib. Karena itu dalam pembuatannya dilakukan
secara eksklusif. Yang mana antara satu orang dengan yang lain aka nada
perbedaan perlakuan,” unkapnya. “Karena itu sebelum proses pembuatan, kami akan
melakukan konsultasi untuk mengetahui karakter pribadi serta unsure-unsur
kelahiran dari si pemesan. Lalu ada serangkaian prosesi wilujengan untuk
mengawali proses pembuatan, yang mana di sana kami juga melibatkan si pemesan.
Dan di proses akhir, keris itu akan kita kirab keliling desa pada tengah malam,
sebagai bagian dari rangkaian proses ritual penyempurnaan keris tersebut,” sambungnya
Ritual ini dipandang
perlu karena keris yang akan dibuat harus sesuai dengan karakter pribadi orang
yang memesannya. Sehingga kekuatan energi spiritual yang terserap dalam logam
tersebut, nantinya diharapkan benar-benar bisa bersinergi dnegan jalan hidup si
pemilik.
Selain itu, dengan
mengungkap karakter pribadi si pemesan, maka hal itu bisa berkaitan dnegan
penggunaan bahan-bahan logam yang akan dijadikan campuran. Dalam hal ini
terkait dengan komposisi dan perbandingannya.
Saat kesimpulan
tentang karakter pribadi si pemesan sudah didapat, maka campuran logam yang
berupa pasir besi, serta nikel mulai disiapkan. Yang kemudian dilebur menjadi
lempengan, dan kemudian ditempa dengan dilipat hingga ratusan kali, untuk
menciptakan pamor yang dikehendaki.
Dan setelah beberapa
waktu, di saat seluruh bilah keris sudah selesai dibentuk. Maka proses
berikutnya adalah melakukan penyepuhan dengan merendam dalam larutan arsenic.
Hal ini ditujukan untuk memunculkan pamor keris serta membuat keris tersebut
lebih tahan lama. Dan di akhir proses pembuatan, dilanjutkan dnegan menggelar
ritual khusus berupa kirab.
“Kirab itu adalah bentuk
simbolisasi penyebaran energi keris tersebut ke seluruh alam. Yang tujuannya
untuk menciptakan harmonisasi energy, sehingga pada akhirnya energy tersebut
bisa bersinergi dengan sang pemilik nantinya,” lanjut pria yang kerap diundang sebagai
pembicara dalam persoalan budaya dan keris itu.
Kirab sengaja
dilakukan pada tengah malam yang merupakan saat di mana pancaran kekuatan
energi alam bisa diserap dengan baik oleh pusaka. Tak hanya itu, kirab pada
malam hari juga merupakan wujud penyatuan diri dengan alam semesta. Sebab dalam
kegelapan malam, segala sesuatu akan melebur menjadi satu, sehingga memudahkan
dalam melakukan kontak dengan Sang Pencipta.
| Kirab untuk penyempurnaan pusaka |
Hal ini perlu karena
dalam kirab itu seluruh peserta yang terdiri dari para budayawan serta keluarga
besar Padepokan Brojobuwono berjalan kaki tanpa alas kaki dan tanpa suara,
alias tapa mbisu. Menurut Empu
Basuki, tapa mbisu adalah sebuah wujud laku spiritual yang memosisikan
seseorang hanya menjalin kontak dengan Sang Pencipta. Sebab seluruh konsentrasi
hati dan pikiran hanya akan menuju ke sana. Tanpa harus terganggu dengan
komunikasi antar sesama manusia.
Kondisi Desa Wonosari
yang masih banyak ditumbuhi hutan-hutan jati, semakin menguatkan kesakralan
ritual kirab ini. Apalagi para peserta kirab hanya membawa beberapa obor
sebagai penerangan jalan. Dan kesakralan itu semakin bertambah dengan aroma
asap dupa dan kemenyan yang senantiasa mengepul dari sebuah tungku kecil yang
dibawa salah seorang peserta kirab.
Namun lepas dari
tujuan yang bersifat spiritual, segala apa yang dilakukan oleh Empu Basuki
adalah bagian dari upayanya untuk senantiasa mengenalkan keris dan berbagai hal
yang melekat di dalamnya, kepada masyarakat. karena itulah, dalam setiap
penyelenggaraan acara tersebut, Empu basuki juga melibatkan banyak orang,
termasuk masyarakat desa di sekitar padepokan berada.
“Ini adalah bagian
dari pelstarian tradisi. Dengan begitu maka keistimewaan dari sebuah keris
sebagai karya budaya akan senantiasa terjaga,” pungkasnya. //



0 Komentar