![]() |
| (Ilustrasi) |
Perempuan
yang memiliki katuranggan tertentu, diyakini memiliki kemampuan istimewa dalam
berhubungan seks, meski dia tidak pernah belajar dalam seni bercinta.
Dalam kehidupan manusia sejak dulu tidak ada yang
dianggap lebih menarik selain yang dinamakan seks. Seks seolah-olah telah
menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Masuk akal
memang, karena bagaimanapun kehidupan ini juga lahir karena adanya seks.
Manusia, hewan dan bahkan tumbuhan muncul ke dunia tidak lepas dari peran yang
dinamakan seks. Hanya saja masing-masing memliliki perbedaan dalam banyak hal.
Dalam dunia binatang pengertian seks hanya akan terletak
pada sebatas hubungan antara dua binatang dengan jenis kelamin yang berbeda
dengan satu tujuan utamanya adalah proses reproduksi dan regenerasi. Sedangkan
dalam dunia manusia, seks memiliki beragam makna. Mulai dari seks sebagai
bagian dari sebuah proses reproduksi sampai dengan seks adalah sebuah rekreasi.
Hal ini terutama bisa kita temui dalam masyarakat Jawa.
Sebuah masyarakat yang mempunyai kebudayaan yang sangat khas dimana dalam
sistem dan metode budayanya masyarakat ini kental sekali dengan penggunaan
simbol-simbol atau lambang-lambang sebagai sarana atau mediasi untuk membuat
dan menyampaikan pesan, dan keyakinan yang dianutnya. Simbol-simbol yang hanya
bisa dipahami melalui bahasa manusia bahkan bisa membuat sebuah kenyataan
kadang kala menjadi kabur maknanya tergantung dari siapa yang memaknakannya.
Dalam masyarakat, pengaburan terhadap makna ini juga
berlaku pada masalah seks. Dimana yang sebelumnya dalam masyarakat Jawa
hubungan seksual hanya bisa dilakukan dengan adanya ikatan perkawinan. Sehingga
terlihat bahwa hubungan seks tidak lagi
mengandung makna lain yang lebih pada pelampiasan nafsu-nafsu hedonistik. Namun
pada kenyataannya dengan adanya sistem budaya katuranggan, di kalangan priyayi
atau ningrat Jawa seolah-olah telah menunjukkanadanya pengaburan terhadap makna
seks di masyarakat.
Dalam katuranggan, bagi masyarakat Jawa, seks yang pada
dasarnya memang dianggap sebagai bagian dari proses reproduksi, akan memiliki
makna lain. Di sini di balik tujuan esensial tersebut, seks akan dinikmati dan
sekaligus diritualisasi sebagai sarana penikmatan hidup, ataumenyimpan
tujuan-tujuan yang bersifat hedonistik. Artinya dalam masyarakat Jawa, (dalam
sistem budaya katuranggan) masalah seks yang seringkali dianggap tabu, di
baliknya akan tersembunyi berbagai permainan watak yang khas yang identik
dengan pandangan bahwa hidup untuk
dinikmati (hedonistik).
Istilah katuranggan
sendiri berasal dari kata turangga
yang dalam bahasa Kawi bisa diartikan sebagai kuda, bentuk fisik, dan atau sifat dari bentuk karakter fisik.
Selanjutnya katuranggan diartikan sebagai sifat atau tanda-tanda sesuatu yang
didasarkan atas penampakan fisik. Sebenarnya katuranggan ini berlaku pada semua
jenis benda. Hanya saja karena pengaruh dominasi dan subordinasi ideologi
patriarkhi, katuranggan kemudian banyak diterapkan untuk memberikan simbol-simboltertentu
pada perempuan terutama yang bersifat seksual. Contohnya adalah memberikan
gambaran ciri-ciri perempuan yang bisa memberikan kenikmatan lebih saat
disetubuhi, lalu mengenai bagian-bagiantubuh wanita yang sensitif, serta
mengenai penanggalan yang berhubungan dengan letak bagian-bagian sensitif dari
tubuh seorang perempuan pada saat-saat tertentu.
Dari adanya budaya
katuranggan ini, kita pasti bisa sedikit membayangkan, bahwa katuranggan tidak
mungkin bisa disusun oleh mereka yang hanya menjalani hidup dengan pola yang
biasa-biasa saja. Pasti akan muncul dalam benak pikiran kita bahwa yang
menyusun ini adalah orang-orang yang memang telah banyak berpengalaman dalam
hal masalah seksual. Tidak mungkin orang bisa berbicara banyak soal berbagai macam
jenis kenikmatan seksual, kalau orang itu tidak pernah merasakan semua hal yang
di bicarakannya. Dalam hal ini pernah bergonta-ganti pasangan dalam berhubungan
seks atau orang tersebut mempunyai seni bercinta (bersenggama) yang lebih
dibandingkan dengan orang lain.
Dari hal tersebut bisa kita lihat bahwa dengan adanya
budaya katuranggan, maka fungsi dari sebuah hubungan seksual menjadi lebih
kompleks daripada hanya sekedar sebuah proses reproduksi. Seks bisa lebih
cenderung sebagai sebuah rekreasi, sebatas pelampiasan nafsu atau bahkan bisa
jadi sebuah simbol keperkasaan dari seseorang.
Karena itulah,
tidak salah jika sebagian orang memandang hubungan seks lebih dari sebuah
rutinitas dalam hubungan sepasang suami istri. Seks memiliki nilai lebih, yang
dari dalamnya ada tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai.
Katuranggan
dipandang sebagai pelengkap untuk menciptakan sensasi dari sebuah hubungan. Dia
dipandang lebih ampuh dari apa yang tertuang dalam kitab kamasutra. Sebab
katuranggan adalah sebuah kondisi alami yang meski tanpa proses pembelajaran
apapun, akan bisa mengkondisikan seorang perempuan memiliki kemampuan tertentu
dalam berhubungan seksual.
Artinya, meski
seorang perempuan tidak pernah belajar tentang seni bercinta, bila dia memiliki
katuranggan tertentu yang dipandang istimewa, maka dia diyakini akan
benar-benar memiliki kemampuan seni bercinta yang hebat. Karenanya, sebelum
memutuskan menikah, seorang laki-laki biasanya akan melakukan proses seleksi
terhadap perempuan yang akan dinikahinya. Dan katuranggan kerap dijadikan salah
satu kategori, dalam pemilihan itu. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa rutinitas
seksual yang dijalani bersama pasangan, juga menjadi salah satu faktor penentu
keharmonisan hubungan suami istri.
Meski demikian
hal ini tidak bisa digeneralisir bahwa seorang laki-laki akan selalu
mempertimbangkan hal-hal yang terkait dengan katuranggan. Sebab saat bicara
soal pernikahan, tentu yang berperan adalah perasaan cinta. Sehingga tak jarang
karena perasaan yang satu ini, seseorang tidak lagi mempertimbangkan berbagai
hal, apalagi hanya faktor fisik terkait katuranggan.
Dan rasa cinta
memang harus paling dominant dalam sebuah hubungan pernikahan. Sebab bila hanya
didasari keistimewaan fisik atau katuranggan, hal itu tidak akan abadi. Seiring
berjalannya waktu dan bertambahnya umur, hal yang satu ini akan mengalami
penurunan kualitas. Sehingga tentu berpengaruh juga pada keindahan sensasi yang
dibayangkan.//



0 Komentar