Dawet Jabung identik dengan penjualnya yang cantik-cantik. Konon hal ini terkait
dengan tradisi pencarian jodoh dari gadis-gadis itu. Makanya banyak para pemuda
yang datang dengan harapan bisa mendapatkan cinta dari gadis penjual dawet
tersebut.
Lampu
traffic light menyala hijau. Sebuah truk bermuatan pasir dengan lima orang
penumpang segera melaju. Namun si sopir tidak segera memacunya dengan cepat.
Tepat sekitar seratus meter dari traffic light, si sopir membelokkan arah ke
deretan warung dawet Jabung, yang memang banyak terdapat di sekitar perempatan
jalan Desa Jabung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Empat orang pemuda
bertubuh kekar serta sopir dari truk tadi segera turun dan masuk ke dalam
warung. Rupanya salah seorang dari rombongan kuli angkut pasir tadi kenal
dengan si penjual dawet. Dengan senyum manis dan agak manja, si penjual dawet
itu segera menyapa dan mempersilahkan mereka untuk duduk. “Monggo, Mas.
Silahkan duduk!” sapa Rahayu, si penjual dawet.
Semangkuk dawet Jabung yang dingin dan segar segera dilahap habis oleh para pemuda itu. Bahkan beberapa di antaranya sampai nambah, karena merasa belum terpuaskan rasa hausnya.
Semangkuk dawet Jabung yang dingin dan segar segera dilahap habis oleh para pemuda itu. Bahkan beberapa di antaranya sampai nambah, karena merasa belum terpuaskan rasa hausnya.
Dawet Jabung yang
menjadi salah satu minuman khas masyarakat Ponorogo memang disajikan dalam
sebuah mangkuk yang ukurannya terbilang sangat kecil. Oleh masyarakat sekitar
mangkuk ini disebut tuwung. Karena itulah seringkali para pembeli minuman ini
harus nambah untuk mengusir dahaga dan rasa panas yang menyerang kerongkongan.
Musim kemarau seperti
yang tengah melanda saat ini bisa dibilang sebagai musim panen bagi para
penjual dawet Jabung. Sebab dengan kondisi cuaca yang sangat panas, hal itu
tentu akan mendorong setiap orang untuk mampir guna melepas dahaga.
Seperti yang terlihat
siang itu, hampir seluruh warung dawet yang ada di perempatan jalan desa itu
penuh sesak dengan para pembeli. Tak terkecuali warung yang dijaga oleh Rahayu.
Dari pengamatan deptINFO.com yang kebetulan berada di dalam warung tersebut, warung
yang dijaga gadis cantik asal kota Blitar ini terbilang paling ramai. Para
pengunjung yang sebagian besar laki-laki datang silih berganti mengisi
bangku-bangku panjang yang disediakan.
Gadis Cantik
Gadis-gadis cantik
sebagai penyaji memang menjadi salah satu ciri khas warung dawet Jabung, yang
sepertinya sengaja dijadikan senjata andalan untuk menarik pembeli
sebanyak-banyaknya. Namun demikian, keberadaan gadis-gadis cantik tersebut tak
sepenuhnya dijadikan sebagai media untuk menarik pembeli. Sebab di balik itu
ternyata ada tradisi tersendiri yang melatar belakangi penggunaan gadis-gadis
cantik sebagai penyaji es dawet Jabung.
Konon hal ini terkait
dengan upaya pencarian jodoh. Di mana dengan menjadi penyaji dawet Jabung,
diharapkan si gadis akan bisa menemukan jodohnya, yang tentunya dari kalangan
para pembeli yang datang ke warungnya. Karenanya masuk akal sekali kalau
kebanyakan para pengunjung warung dawet Jabung adalah para laki-laki. Dan
jangan heran kalau kita tidak menemukan penjual dawet Jabung yang sudah tua,
apalagi laki-laki.
Karena terkait dengan
tujuan itu pula, cara penyajian dawet Jabung terbilang sangat unik. Selain
menggunakan mangkuk yang berukuran kecil, si penjual menyajikannya dengan
menggunakan sebuah piring kecil sebagai alas mangkuk itu, yang biasa disebut
lepek. Hanya saja lepek ini tidak diberikan bersamaan dengan mangkuk tadi.
Jadi para pembeli hanya diperbolehkan mengambil mangkuknya tanpa lepek
di bawahnya.
Tak jarang terjadi
pemandangan para pembeli meraih mangkuk beserta lepeknya, sehingga tak ayal
terjadi tarik menarik antara si penjual dengan si pembeli. Karena itulah si
penjual tak boleh bosan untuk menjelaskan bahwa yang diambil hanya mangkuknya
saja. Karena piring kecil itu hanya sebagai pengganti nampan yang tidak
disertakan dalam penyajian.
“Lepeknya cuma satu,
makanya harus saya ambil lagi. Soalnya kalau diikutkan, saya bingung nyari
lagi,” ucap Rahayu sambil tersenyu.
Sepintas alasan itu
cukup masuk akal, tapi kalau ditelaah lebih jauh, jelas terlihat kalau itu
hanya alasan yang dibuat-buat untuk menutupi sesuatu yang sengaja dirahasiakan.
Karena bagaimanapun mencari piring sejenis untuk tatakan mangkuk itu jelas
bukan pekerjaan sulit. Jadi sangat aneh kalau si penjual itu mengaku tidak
memiliki lepek lain sebagai gantinya.
Tapi memang itulah
kenyataan yang membuat dawet Jabung berbeda dengan dawet yang lain. Gadis
cantik, mangkuk kecil dan lepek satu untuk bersama memang tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Mengenai bahan baku dawet itu
sendiri, juga sedikit berbeda. Kalau pada umumnya dawet dibuat dari tepung
beras, tidak demikian halnya dengan dawet Jabung yang menggunakan pati dari
pohon aren. Selain itu gula yang dipakai bukan gula Jawa atau gula pasir yang
seperti dipakai pada minuman dawet yang lain. Dawet Jabung menggunakan air nira
kelapa atau yang biasa disebut legen sebagai pemanisnya. Sehingga rasa yang
dihasilkan sangat istimewa.
| Gagang pengaduk dawet berbentuk wayang Arjuna |
Hal lain yang juga
tidak bisa dilepaskan dari dawet Jabung adalah bentuk gagang pengaduk dawet dihias dengan ukiran kayu berbentuk tokoh wayang Arjuna. Lalu satu bahan
campuran lagi yang selalu ada adalah air larutan garam, yang diberikan untuk
menambah rasa gurih pada minuman yang disajikan.
Media Jodoh
Khusus untuk air
garam, dari bahan yang satu inilah munculnya pandangan bahwa warung dawet
Jabung adalah tempat untuk mencari jodoh bagi para penyajinya. Sebab dalam
budaya masyarakat Jawa ada pandangan yang menyatakan bahwa bila seorang gadis
menyajikan makanan atau minuman dengan rasa yang terbilang asin, bisa dikatakan
kalau yang bersangkutan memang sudah siap dan ingin segera menikah.
“Garam itu untuk
mengetahui apakah si penjual lagi nyari jodoh atau nggak. Kalau dawet yang
disajikan rasanya enak atau biasa saja, berarti dia tidak sedang nyari jodoh.
Tapi kalau dawet itu rasanya sangat asin, berarti bisa dipastikan kalau dia
memang sedang nyari. Dan orang yang kebetulan mendapatkan dawet yang asin tadi
adalah orang yang disukai oleh si penjual. Makanya kalau orang itu memang
berminat, maka sudah pasti si penjual itu akan mau diperistri olehnya,” terang
Sutini, salah seorang warga Desa Jabung yang sebagian halaman rumahnya
digunakan sebagai warung dawet Jabung.
Sutini juga
menambahkan, bahwa rasa asin itu muncul karena biasanya si penjual terlalu
banyak memberikan air garam ke dalam mangkuk dawet. Dan ini terjadi karena ada
perasaan tertentu dalam hati si penjual yang membuatnya agak gugup atau grogi.
Sehingga terkadang lupa berapa takaran air garam yang harus diberikan pada
dawet yang disajikan itu. Karena itulah, bila saat menyajikan si pembeli
tersebut meraih mangkuk bersama piring penyajinya, maka si penjual biasanya
akan memberikannya.
Namun dalam
perkembangannya, dawet Jabung sempat diberi cap buruk. Sebab tradisi pencarian
jodoh yang melekat di dalamnya, disalah gunakan dengan menyusupi
praktek-praktek prostitusi. Tindakan si penjual yang memberikan mangkuk beserta
piring penyajinya sekaligus, dijadikan pertanda bahwa si penjual bisa diajak
kencan oleh si pembeli tersebut. Dan hal ini konon masih ada di beberapa warung
penjual dawet Jabung yang banyak bertebaran di seluruh pelosok Kabupaten
Ponorogo. //

0 Komentar