![]() |
| KRA Rivo Cahyono hadirkan sertifikat keris Ethnic Indonesia |
SURABAYA, Kalandara.com - Sebuah keris tidak hanya menyimpan jejak masa lalu pada bilahnya. Di balik bentuk, pamor, dhapur dan tangguhnya, terdapat pengetahuan panjang yang menjadi bagian dari perjalanan budaya Nusantara.
Karena itu, upaya melestarikan keris dan Tosan Aji sejatinya tidak cukup hanya dengan merawat benda pusakanya secara fisik. Identitas, dhapur, pamor, tangguh, filosofi, kondisi hingga perjalanan sebuah pusaka juga penting untuk dicatat dan didokumentasikan.
Sebab ketika sebuah keris berpindah tangan dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang dikhawatirkan bukan hanya perubahan pemilik. Pengetahuan mengenai pusaka tersebut juga berpotensi ikut hilang.
Berangkat dari pemikiran itulah Ethnic Indonesia membuka layanan sertifikasi kuratorial keris dan Tosan Aji bagi masyarakat dan kolektor di Indonesia. Layanan tersebut ditujukan baik bagi kolektor pemula maupun mereka yang telah lama berkecimpung di dunia keris.
Gagasan tersebut tidak lahir begitu saja. KRA Rivo Cahyono, salah satu kurator di Ethnic Indonesia, mengaku ide tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya ketika mulai mengoleksi keris.
Pada masa awal menjadi kolektor, ia beberapa kali menemukan perbedaan keterangan mengenai sebuah pusaka. Satu keris yang sama bisa mendapatkan penjelasan berbeda ketika ditanyakan kepada orang yang berbeda, mulai dari dhapur, pamor hingga tangguh.
Pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk semakin memahami bahwa mengoleksi keris harus berjalan beriringan dengan proses belajar.
“Dulu saya juga pernah berada pada posisi kolektor pemula. Pernah keliru dan bingung karena mendapatkan keterangan yang berbeda-beda. Dari situ saya mulai berpikir bahwa pusaka sebaiknya tidak hanya dikoleksi, tetapi juga dipelajari dan didokumentasikan dengan lebih baik,” ujar Rivo.
Perjalanan itu kemudian membawanya semakin serius mempelajari keris. Melalui Ethnic Indonesia, proses tersebut juga diwujudkan dengan membiayai dan memproduksi berbagai konten budaya, khususnya yang berkaitan dengan keris dan Tosan Aji.
Menariknya, perjalanan Rivo untuk menjadi kurator juga tidak berlangsung secara instan.
Pada kesempatan pertama mengikuti uji kompetensi kurator keris, ia belum berhasil lulus. Namun kegagalan tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar. Rivo kembali memperdalam pengetahuan dan mengikuti pengujian untuk kedua kalinya.
Hasilnya, ia dinyatakan kompeten dan memperoleh sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Pengalaman tersebut membuatnya memandang sertifikasi kompetensi bukan sebagai tanda bahwa seseorang telah menguasai seluruh pengetahuan mengenai keris.
“Tidak lulus pada ujian pertama membuat saya semakin sadar bahwa dunia keris sangat luas. Sampai sekarang pun saya masih belajar. Sertifikat kompetensi bukan berarti seseorang sudah mengetahui semuanya, tetapi justru membawa tanggung jawab untuk terus belajar dan berhati-hati dalam memberikan pendapat,” katanya.
Pandangan tersebut menjadi penting mengingat dunia keris memiliki cakupan pengetahuan yang sangat luas. Identifikasi sebuah pusaka tidak semata-mata melihat bentuk bilah, tetapi membutuhkan pengamatan terhadap berbagai unsur yang saling berkaitan.
Dalam layanan yang dikembangkan Ethnic Indonesia, pusaka yang diajukan masyarakat akan melalui proses pengamatan dan kajian kuratorial.
Sejumlah unsur didokumentasikan, antara lain dhapur, pamor, ricikan, tangguh atau estimasi periodisasi, perabot, kondisi serta berbagai informasi pendukung lainnya.
Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah hasil kajian tidak hanya bertumpu pada penilaian satu orang.
Sertifikat Kuratorial Ethnic Indonesia ditandatangani oleh tiga kurator keris yang memiliki sertifikat kompetensi BNSP, yakni Ilham Triadi, Harjo Herlambang dan KRA Rivo Cahyono.
Dengan melibatkan tiga kurator, proses kajian diharapkan dapat memberikan dokumentasi yang lebih komprehensif terhadap objek yang diperiksa.
Namun Ethnic Indonesia juga memberikan penegasan penting. Dokumen tersebut merupakan hasil kajian kuratorial berdasarkan kondisi objek pada saat diperiksa. Sertifikasi tersebut bukan klaim bahwa BNSP memberikan sertifikat keaslian terhadap keris.
Sertifikasi kompetensi BNSP melekat pada kompetensi kurator yang melakukan kajian, bukan menjadi sertifikat keaslian terhadap objek keris yang diperiksa.
Satu hal yang menarik dari layanan tersebut adalah upaya menghubungkan sertifikat fisik dengan dokumentasi digital.
Setiap sertifikat dilengkapi QR Code yang dapat dipindai untuk mengakses informasi lebih lengkap mengenai pusaka yang bersangkutan.
Dokumentasi digital tersebut dapat memuat identitas pusaka, filosofi dhapur dan pamor, penjelasan mengenai tangguh atau periodisasi, dokumentasi visual serta informasi lain yang relevan dengan hasil kajian.
Dengan konsep tersebut, sertifikasi tidak berhenti sebagai selembar dokumen yang disimpan bersama keris.
Lebih jauh, sertifikat menjadi pintu menuju sebuah arsip yang menyimpan pengetahuan tentang pusaka.
“Saya membayangkan suatu hari keris ini berpindah kepada anak, cucu atau kolektor berikutnya. Kerisnya mungkin masih ada, tetapi jangan sampai pengetahuan tentang keris tersebut hilang. Karena itu kami mencoba menghubungkan sertifikat fisik dengan jejak dokumentasi digital,” jelas Rivo.
Layanan sertifikasi keris tersebut kini dibuka bagi masyarakat yang membutuhkan dokumentasi, identifikasi maupun kajian kuratorial terhadap koleksi keris dan Tosan Aji yang dimilikinya.
Sasarannya pun tidak hanya kolektor senior. Justru, menurut Rivo, kolektor pemula perlu mendapatkan akses terhadap proses edukasi dan dokumentasi agar memiliki dasar yang lebih baik dalam memahami pusaka yang dimilikinya.
“Tidak perlu merasa harus menjadi ahli terlebih dahulu untuk datang. Kalau baru mulai mengoleksi pun tidak masalah. Semangat kami bukan menghakimi koleksi seseorang, tetapi bersama-sama belajar memahami dan mendokumentasikannya dengan lebih bertanggung jawab,” ujarnya.
Pandangan tersebut menempatkan sertifikasi bukan semata-mata sebagai kebutuhan administratif atau upaya memberikan label terhadap sebuah keris.
Lebih dari itu, proses kajian menjadi kesempatan untuk mempertemukan pemilik pusaka dengan pengetahuan tentang benda yang dimilikinya.
Pada akhirnya, persoalan terbesar dalam pelestarian keris bukan hanya bagaimana menjaga bilah agar tetap utuh. Tapi, ada pengetahuan yang juga harus dirawat.
Sebilah keris dapat bertahan secara fisik selama puluhan bahkan ratusan tahun. Namun tanpa catatan mengenai identitas dan pengetahuannya, generasi berikutnya bisa saja hanya menerima sebilah benda tanpa memahami cerita dan konteks budaya yang menyertainya.
Karena itu, Ethnic Indonesia berharap dokumentasi yang dibangun melalui layanan sertifikasi kuratorial tersebut dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi bagian dari arsip digital keris dan Tosan Aji.
Semakin banyak pusaka yang memiliki dokumentasi, semakin banyak pula pengetahuan tentang keris Nusantara yang memiliki jejak untuk diteruskan.
Bagi Ethnic Indonesia, sertifikasi pada akhirnya bukan sekadar persoalan dokumen maupun nilai sebilah keris.
Tapi merupakan bagian kecil dari pekerjaan yang lebih besar: menjaga pengetahuan budaya agar tetap hidup.
“Pusaka yang berada di tangan kita hari ini sebenarnya hanya sedang kita titipkan oleh perjalanan waktu. Tugas kita bukan hanya memilikinya, tetapi merawat, mempelajari dan meneruskan pengetahuannya kepada generasi berikutnya,” tutup Rivo. /*

