| Kekeramatan Sendang Seliran mendorong banyak orang untuk datang guna menjalankan ritual |
BANTUL, Kalandara.com - Malam mulai larut ketika seorang pria paruh baya perlahan menuruni anak tangga, menuju Sendang Seliran di kompleks Makam Raja-raja Mataram, Kotagede, Bantul, DI Yogyakarta.
Tanpa menghiraukan dinginnya udara yang menusuk tulang, ia duduk bersila di tengah kolam, membiarkan tubuhnya terendam air yang jernih.
Sesekali kepalanya masuk ke dalam air, seolah larut dalam doa dan laku spiritual yang dijalaninya.
Pemandangan seperti itu bukanlah hal yang asing di Sendang Seliran. Hampir setiap malam, terutama pada malam-malam yang dianggap sakral dalam penanggalan Jawa, selalu ada orang yang datang untuk mandi, berendam, atau sekadar mengambil air.
Sebagian ingin menikmati kesegaran mata air yang tak pernah surut, sementara sebagian lainnya datang dengan tujuan spiritual yang hanya mereka sendiri yang mengetahuinya.
Di kompleks Makam Raja-raja Mataram sebenarnya terdapat beberapa sendang. Namun yang paling dikenal adalah sepasang Sendang Seliran, yakni Sendang Lanang dan Sendang Wadon.
Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, nama Seliran berasal dari istilah diselirani atau dikerjakan sendiri.
Konon, hal ini terkait dengan sejarah di mana sendang tersebut dibuat langsung oleh Panembahan Senopati bersama ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, pada masa-masa awal berdirinya Kerajaan Mataram.
Kisah pembuatannya pun sarat nuansa spiritual. Dikisahkan, suatu ketika Panembahan Senopati hendak menunaikan salat, namun kesulitan memperoleh air untuk berwudu.
Ia kemudian memanjatkan doa kepada Tuhan hingga mendapat petunjuk untuk menghentakkan kakinya ke tanah. Tak lama kemudian muncul mata air yang terus mengalir.
Setelah menggunakan air itu untuk berwudu dan menunaikan ibadah, Panembahan Senopati bersama Ki Ageng Pemanahan berinisiatif membuat kolam penampungan agar sumber air tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Kotagede.
Namun, terdapat pula versi lain mengenai asal-usul nama Seliran. Sebagian masyarakat meyakini kata tersebut berasal dari kata selira yang berarti badan.
Keyakinan ini merujuk pada anggapan bahwa sumber mata air tersebut memiliki keterkaitan dengan tempat peristirahatan terakhir Panembahan Senopati.
Terlepas dari berbagai versi yang berkembang, Sendang Seliran hingga kini tetap dipandang sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah sekaligus spiritual.
Airnya dipercaya membawa berkah dan diyakini mampu membantu menyembuhkan berbagai penyakit.
Kepercayaan tersebut berasal dari cerita lisan bahwa Panembahan Senopati pernah menyampaikan air sendang itu memiliki banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Karena itulah, tidak sedikit pengunjung yang membawa pulang air sendang dalam botol atau jeriken kecil.
Mereka percaya air tersebut dapat digunakan sebagai sarana ikhtiar untuk kesehatan maupun keselamatan.
Seiring berjalannya waktu, fungsi Sendang Seliran tidak lagi hanya sebagai sumber air bersejarah. Di kalangan sebagian masyarakat Jawa, tempat ini juga dipercaya memancarkan energi spiritual sehingga sering dijadikan lokasi menjalani laku tirakat.
Ritual yang dilakukan pun beragam, mulai dari mandi malam, tapa kungkum, berdoa, hingga semedi. Tujuannya juga berbeda-beda, mulai dari memohon keselamatan, kelancaran rezeki, membuka aura, hingga mencari ketenangan batin.
Kepercayaan-kepercayaan tersebut berkembang sebagai bagian dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun dan tidak memiliki dasar sejarah yang dapat diverifikasi.
Di antara berbagai cerita yang berkembang, legenda tentang Blorong menjadi salah satu kisah yang sering diperbincangkan.
Seorang abdi dalem penjaga kompleks makam yang enggan disebutkan namanya menuturkan, sebagian orang meyakini Sendang Seliran merupakan salah satu lokasi yang dijaga oleh sosok Blorong.
Menurut cerita yang beredar di masyarakat, sosok itu kerap muncul berenang di air sendang pada malam-malam tertentu.
Karenanya, seseorang yang ingin bertemu sosok tersebut harus menjalani tapa kungkum selama tujuh malam Jumat Kliwon berturut-turut.
Pada malam terakhir, pelaku ritual dipercaya harus berendam sambil menenggelamkan seluruh tubuhnya hingga seratus kali.
"Setidaknya kita harus melakukan tapa kungkum selama tujuh kali Jumat Kliwon. Lalu pada hari yang terakhir kita berendam sambil menyelam sampai seratus kali. Menurut cerita, pada penyelaman yang ke seratus biasanya Blorong akan muncul dalam wujud seorang perempuan cantik," ungkap spiritualis Bambang Prihartono seperti dikutip dari majalah LIBERTY edisi Agustus 2014.
Dalam cerita rakyat yang berkembang, sosok tersebut konon memberikan sebuah mustika kepada orang yang berhasil menjalani ritual sebagai media untuk berkomunikasi dengannya.
Masyarakat yang mempercayai kisah tersebut meyakini mustika itu dapat digunakan untuk memohon bantuan, termasuk memperoleh kekayaan.
Sebagai imbalannya, pelaku ritual dipercaya harus memenuhi syarat-syarat tertentu sesuai cerita yang berkembang.
Meski demikian, sang abdi dalem mengatakan tidak semua orang mampu menyelesaikan ritual tersebut. Banyak yang justru mengaku ketakutan sebelum ritual berakhir.
Menurut kisah yang berkembang, meskipun Blorong disebut menampakkan diri sebagai perempuan berparas cantik, bagian tubuhnya yang berada di dalam air dipercaya tetap berwujud ular besar.
"Ritual itu dilakukan tengah malam. Banyak yang akhirnya gagal karena takut. Meski wajahnya cantik, tatapan matanya sangat menyeramkan. Tubuh ularnya juga dipercaya membelit orang yang sedang menjalani ritual," ungkapnya.
Terlepas dari berbagai cerita mistis yang berkembang, mayoritas pengunjung Sendang Seliran sebenarnya datang untuk tujuan yang jauh lebih sederhana.
Sebagian hanya ingin mandi menggunakan air sendang yang terkenal jernih, mengambil air untuk dibawa pulang, atau menjalani ritual doa sebagai bentuk ikhtiar memohon kesehatan, keselamatan, dan keberuntungan.
Menurut sang abdi dalem, malam Jumat Kliwon menjadi waktu yang paling ramai didatangi pengunjung.
"Biasanya yang paling ramai malam Jumat Kliwon. Umumnya mereka datang untuk berdoa dan berharap kehidupan mereka menjadi lebih baik. Mereka percaya air sendang ini dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghilangkan kesialan dan membawa keberkahan," pungkasnya.
Hingga kini, Sendang Seliran tetap menjadi salah satu situs bersejarah penting di Kotagede.
Di balik jernihnya mata air yang tak pernah berhenti mengalir, tersimpan perpaduan antara sejarah berdirinya Mataram Islam, tradisi spiritual masyarakat Jawa, dan beragam cerita rakyat yang terus hidup dari generasi ke generasi. /*
