Menyelamatkan Roh Kota Budaya, Ketua FBM: Solo Tak Boleh Kehilangan Rumah bagi Para Seniman

Ketua FBM, Dr. BRM Kusumo Putro mendesak berdirinya gedung kesenian sebagai rumah bagi para seniman di Kota Solo

SOLO, Kalandara.com – Julukan "Solo Spirit of Java" selama puluhan tahun melekat sebagai identitas Kota Surakarta. 

Kota ini dikenal sebagai pusat lahirnya maestro seni, tempat berkembangnya wayang orang, ketoprak, tari tradisi, hingga berbagai komunitas budaya yang menjadi denyut kehidupan masyarakat. 

Namun di balik kebanggaan itu, tersimpan ironi yang kini dinilai mengancam roh Kota Budaya.

Hingga saat ini, Solo belum memiliki gedung kesenian dan kebudayaan yang representatif sebagai rumah bersama bagi para seniman. 

Kondisi tersebut membuat Ketua Forum Budaya Mataram (FBM) Dr. BRM Kusumo Putro, SH, MH mendesak pemerintah segera merealisasikan pembangunan gedung kesenian sebagai langkah menyelamatkan identitas budaya Kota Bengawan.

Kusumo mengatakan Solo kini berada pada titik yang memprihatinkan. Kota yang selama ini menjadi barometer kebudayaan Jawa justru belum mampu menyediakan ruang permanen bagi para pelaku seni untuk berkarya.

"Yang sedang kita perjuangkan bukan sekadar membangun sebuah gedung, tetapi menyelamatkan roh budaya Kota Solo. Kota ini dikenal dunia karena budayanya, maka budayanya harus memiliki rumah yang layak," tegas Kusumo.

Menurutnya, Solo sejak lama dikenal sebagai gudangnya seniman. Nama-nama besar seperti Dullah, Heri Gedhe, hingga para pelaku teater, ketoprak, wayang orang, dan seni pertunjukan lainnya lahir dari kota ini. 

Di sisi lain, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta juga setiap tahun melahirkan ribuan seniman muda yang membutuhkan ruang untuk berekspresi dan berkembang.

Sayangnya, potensi besar tersebut belum didukung infrastruktur yang memadai.

"Sangat miris melihat realita saat ini. Kota dengan slogan sebesar itu tidak mempunyai gedung kesenian mandiri. Sudah berkali-kali saya menyampaikan persoalan ini kepada setiap pergantian kepemimpinan, tetapi hasilnya tetap nihil," ujarnya.

Absennya gedung kesenian kini mulai dirasakan dampaknya oleh para pelaku seni. Banyak sanggar harus berpindah-pindah tempat latihan karena tidak memiliki ruang tetap dan terkendala biaya sewa.

Kondisi tersebut juga dialami Sanggar Gendewo Kusumo yang terpaksa memanfaatkan pendopo-pendopo kelurahan sebagai lokasi latihan. 

Situasi itu menjadi gambaran bahwa para seniman Solo masih harus berjuang hanya untuk mempertahankan aktivitas berkesenian.

Padahal, bagi Kusumo, apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, bukan hanya aktivitas seni yang terancam, melainkan juga keberlangsungan regenerasi budaya di Kota Solo.

Ketua Dewan Pelestari dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) ini menilai gedung kesenian nantinya harus dibangun di kawasan strategis pusat kota agar mudah diakses masyarakat sekaligus menjadi ikon baru kebudayaan Surakarta.

Gedung tersebut diproyeksikan menjadi pusat pertunjukan musik, tari, teater, ketoprak, wayang orang, ruang pameran seni rupa, hingga pusat edukasi budaya. 

Kehadirannya juga diyakini mampu mengurangi tingginya biaya penyelenggaraan pertunjukan yang selama ini harus menyewa hotel atau gedung komersial.

Kusumo bahkan mengusulkan kawasan bekas Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari dihidupkan kembali sebagai pusat kebudayaan modern yang menghadirkan hiburan rakyat berkualitas sekaligus menjadi destinasi wisata budaya.

Konsep itu dinilai mampu memperkuat citra Solo sebagai kota budaya sekaligus memberikan dampak ekonomi melalui sektor pariwisata.

Sebagai bentuk kepedulian, Kusumo bersama berbagai elemen masyarakat berencana menggelar aksi sosial dalam kegiatan Car Free Day (CFD) Solo.

Melalui aksi tersebut, masyarakat diajak menyuarakan pentingnya pembangunan gedung kesenian sebagai bentuk komitmen menjaga identitas Kota Solo.

Bagi Kusumo, mempertahankan predikat sebagai Kota Budaya tidak cukup hanya dengan slogan atau agenda seremonial. 

Diperlukan keberpihakan nyata melalui penyediaan ruang yang layak bagi para pelaku seni untuk terus berkarya.

"Solo jangan sampai hanya mewarisi nama besar sebagai Kota Budaya, tetapi kehilangan ruang hidup bagi budayanya sendiri. Kalau para seniman tidak lagi memiliki rumah untuk berkarya, lambat laun yang hilang bukan hanya pertunjukan seni, melainkan roh Kota Solo itu sendiri," pungkasnya. /*