![]() |
| Tedjo Bhayu Adjie |
SOLO, Kalandara.com - Alunan Autumn Leaves mengalir lembut dari jemari Tedjo Bhayu Adjie yang memainkan piano di rumahnya, kawasan Jalan Kacer Kota Solo, pada Sabtu 1 Juli 2026.
Melodi standar jazz legendaris yang berasal dari lagu Prancis Les Feuilles Mortes karya Jacques Prévert itu, memenuhi setiap sudut rumah yang ia beri nama Omah Jazz.
Bagi sebagian orang, lagu tersebut hanyalah komposisi klasik yang akrab di telinga para penikmat jazz.
Namun di tangan Tedjo, Autumn Leaves menjadi simbol perjalanan panjangnya dalam memaknai musik, sekaligus pintu masuk untuk memperkenalkan jazz kepada siapa saja tanpa sekat.
Rumah itu bukan sekadar tempat berlatih musik. Lebih dari itu, Omah Jazz menjadi ruang berbagi gagasan bahwa jazz bukanlah musik eksklusif milik kalangan tertentu.
"Makanya saya beri judul rumah saya Omah Jazz dengan tujuan untuk menyebarkan musik yang konon segmented dan berkonotasi sebagai musik elit menjadi musik yang lebih down to earth, lebih bisa dinikmati semua kalangan," ujar Tedjo.
Menurutnya, anggapan bahwa jazz adalah musik kaum elit justru bertolak belakang dengan sejarah kelahirannya.
Jazz lahir dari perjuangan masyarakat Afro-Amerika, tumbuh dari semangat rakyat, lalu berkembang menjadi bahasa musik yang mendunia.
"Di negara asalnya, jazz itu musik rakyat. Lahir dari people's power, bukan musik kaum elit," katanya.
Di Omah Jazz, Tedjo membuka pintunya bagi siapa pun yang ingin belajar. Namun ia menegaskan, yang diajarkan bukan hanya teknik memainkan instrumen.
"Saya mengajari Anda bermain musik, bukan bermain piano. Piano, biola, atau alat musik lainnya hanya media. Belum tentu semua pianis sudah memainkan musik. Mainlah dengan hati," tuturnya.
Filosofi itu menjadi dasar setiap proses belajar di Omah Jazz. Ia percaya, pemahaman terhadap ruh sebuah karya akan menentukan cara seseorang memainkan musik.
Ia mencontohkan campursari. Menurutnya, seseorang tidak akan mampu menghadirkan cengkok khas karya almarhum Didi Kempot apabila tidak memahami cara berpikir dan filosofi yang melatarbelakanginya. Hal yang sama juga berlaku dalam jazz.
Perjalanan Tedjo mencintai musik ternyata tidak bermula dari kampus musik ternama atau maestro internasional.
Saat ditanya siapa guru musiknya, Tedjo justru menyebut sosok guru kesenian semasa sekolah dasar sebagai figur paling berjasa.
"Beliau yang menumbuhkan passion saya terhadap musik. Karena punya passion, saya tidak pernah lelah belajar," ujarnya.
Passion itulah yang membuatnya rela bepergian dari Solo ke Surabaya menggunakan bus demi belajar musik, hingga kemudian menempuh pendidikan musik di Australia.
Kecintaan Tedjo terhadap jazz tumbuh karena ia melihat genre tersebut sebagai bentuk ekspresi yang paling personal.
Ia menggambarkan, lagu sederhana seperti Balonku Ada Lima akan menghasilkan seratus interpretasi berbeda jika dimainkan oleh seratus musisi jazz yang berbeda pula.
"Itulah jazz. Sangat personal. Ada personal touch di dalamnya," katanya.
Hal itu berbeda dengan musik klasik yang menurutnya memiliki standar interpretasi yang lebih baku.
Meski demikian, Tedjo tetap mempelajari teknik klasik seperti Hanon, Czerny, arpeggio, dan tangga nada untuk memperkuat fondasi permainannya.
"Saya belajar klasik, tapi saya ambil tekniknya saja. Saya tidak pernah membawakan repertoar klasik."
Dalam perjalanan bermusiknya, Tedjo mengaku banyak terinspirasi oleh Indra Lesmana.
Ia bahkan pernah belajar langsung kepada musisi yang dikenal memiliki kemampuan lintas genre tersebut.
Suatu ketika, Tedjo merasa improvisasinya mulai menemui jalan buntu. Permainan yang keluar terasa berulang.
Alih-alih menyuruhnya berlatih lebih keras, Indra Lesmana justru memberi nasihat sederhana agar dia berhenti dulu bermain musik, dan menyuruhnya mendengarkan musik selama 1 - 2 bulan.
Tedjo mengikuti saran tersebut. Hasilnya, ia merasakan lompatan besar dalam kemampuan improvisasinya.
Semangat bereksperimen itu kemudian diwujudkan Tedjo melalui Heaven On Earth Jazz, proyek jazz fusion yang ia dirikan pada 2003.
Grup tersebut dikenal menggabungkan jazz progresif, jazz fusion, jazz-rock, serta komposisi instrumental yang sarat improvisasi dan eksplorasi harmonik.
Melalui Heaven On Earth Jazz, Tedjo telah tampil di sejumlah panggung bergengsi seperti Java Jazz Festival, JakJazz Festival, hingga Jazz Goes to Campus Universitas Indonesia.
Karakter musik Heaven On Earth Jazz dibangun melalui interaksi antarpemain secara spontan, struktur komposisi yang eksperimental, serta keberanian memadukan bahasa jazz tradisional dengan pendekatan kontemporer.
Bagi Tedjo, seluruh perjalanan itu bermuara pada satu keyakinan sederhana: teknik memang penting, tetapi musik sejati lahir dari hati.
Di Omah Jazz, prinsip itulah yang terus ia wariskan kepada siapa pun yang datang untuk belajar. Sebab, menurutnya, seseorang belum benar-benar menjadi musisi hanya karena mampu memainkan alat musik.
Musisi adalah mereka yang mampu menghadirkan rasa, memahami filosofi, dan menjadikan musik sebagai bahasa yang hidup. /*

